Education is compulsory for you

0 komentar



Directly or indirectly the prospect of a family or a country depends on the future of a child. So, initially it appears to be an obligation for a family and the country to provide a child, almost every chance to grow or to prosper physically as well as mentally. This is because the future of a country and a family is subjected to the present of a child. We have seen that the countries, which fall in the category of under-developed, are facing the major problem of illiteracy.
Countries like Africa, South Africa, and Afghanistan etc have not progressed yet because they have the lowest ratio of education. Whist, countries like America, United Kingdom, Canada, Australia etc are in the race of developed countries. The major reason behind their development and progress is their standardized educational system. If we only take an example of the UK, she has the high literacy rate of 99%.
The above mentioned statistics show the significance of education in the life of a country. It not just contributes to a country’s development and growth but also revolutionizes a young’s mind to civility.
Undeniable strength of a foundation
Not even a single thing can stand or maintain its position without the support of a solid foundation. Every young mind requires stable nourishment for its growth in the shape of education. In this process, formal education plays a fundamental part, which a child acquires from schools like primary schools, prep schools, private schools or secondary schools.
School is the initial home of education, where one gets familiar with the basic principles of a right and a wrong. Country like UK has made education a compulsion for all children.
We observe that in many countries acquiring education formally has not become a necessary part as it should have become up till now. Parents should admit and realize the deep-seated strength of education for his/her child because education is as important as a healthy diet for a proper physical and mental health. It is such a strength and vigour which, itself empowers the keeper.
Many ancient thinkers, philosophers, and writers like Aristotle, Plato, and Einstein, etc have written books in the significance of education. Aristotle’s writing encompasses morality and aesthetics, logic and science, politics and metaphysics. This wide range of study reflects that acquiring education or knowledge is being honoured by the ancients, who have excelled almost in every field of the study.
Why to choose a good educational institution for your child?
The major reason why a school is regarded as a significant part of a child’s growth is that it gives high precedence to enhancing young child's social development. This is so because social behaviourism and interaction of a human child begins in the early years.
Put briefly, it is appropriate to introduce your child with the regular and formal rules or terms of living in a society in educational institutes like school. take it from http://www.articledeck.com/Education-Is-Compulsory-For-Your-Child%E2%80%99s-Life.html

Kemampuan Anak

0 komentar


Kemampuan anak untuk memahami apa yang dikatakan orang jauh lebih cepat dan jauh lebih baik daripada produksinya. Sebagian peneliti mengatakan bahwa kemampuan anak dalam komprehensi adalah lima kali lipat di bandingkan dengan produksinya (Benedict 1979 dalam fletcher dan Garman 1981: 6).Fenson dkk (dalam Barret 1995: 363) mengatakan bahwa pada saat anak dapat memproduksi 10 kata, komprehensinya adalah 110 kata; jadi, 11 kali lipat daripada produksinya.
Pada umumnya kebanyakan ahli kini berpandangan bahwa anak dimanapun juga memperoleh bahasa ibunya dengan memakai strategi yang sama. Kesamaan ini tidak hanya dilandasi oleh biologi dan neurology manusia yang sama tetapi juga oleh pandangan mentalistik yang mengatakan bahwa anak telah di bekali dengan bekal kodrati pada saat di lahirkan. Di samping itu,dalam bahasa juga terdapat konsep universal sehingga anak secara mental telah mengetahui korat-kodrat universal ini.Karena dalam bahasa ada tiga komponen, yakni, fonologi, sintaksis, dan sematik, yakni, bagaimana anak memperoleh kelayakan dalam berujar.
Kalau kita kaji ulang perkembangan bahasa anak setelah mereka dapat mengucapkan “kata” pertamanya, kita lihat anak pada mulanya berbahasa hanya dengan menggunakan satu kata saja. kata-kata yang diucapkan itu bentuknya sederhana, maknanya konkret, dan mengacu pada benda, kejadian, atau orang yang ada di sekitarnya dan dalam membaca awal permulaan, hendaknya disesuaikan dengan celotehan (babbling) anak, dimana kata awal yang mereka kenal adalah kata-kata yang dimulai dengan kosonan dan diikuti sebuah vokal.
Ketidakseimbangan antara komprehensi dengan produksi ini tampak pada perilaku bahasa sehari-hari si anak. Dia telah akan bias memahami perintah untuk menaruh bungkus makanan ke tempat sampah, misalnya meskipun dia belum dapat mengucapkan satu kata pun dengan baik. Dia akan menangis kalau dimarahi ibu atau ayahnya: dia akan datang kalau dipanggil; dst.

PRODUKSI KALIMAT

0 komentar



Ujaran diproses melalui 3 tahap, yaitu konseptualisasi, formulasi dan artikulasi (Meyer 2000: 49; Roelos 2000:71-73).
Studi tentang produksi kalimat tidak dapat dilakukan secara langsung. Kita tidak mungkin membedah tengkorak untuk mengetahui dimana dan bagaimana aliran elektrik pada neuron kita kita itu terjadi. Studi kalimat ini akan dilakukan dengan mengobservasi kalimat yang diujarkan, bagaimana kalimat itu diujarkan, dimana pembicara senyap, dimana dia ragu, dan mengapa dia senyap dan ragu, serta kesalahan-kesalahan apa yang dibuat oleh pembicara tersebut.
A.      Senyapan dan kilir lidah
1.       Senyapan
a.       Macam senyapan
Pada umumnya orang senyap sebentar, entah bernafas entah untuk keperluan lain. Pada waktu bicara, senyap untuk mengambil nafas sebenarnya tidak banyak hanya sekitar 5 %. Senyapan yang lebih umum adalah senyapan karena ragu-ragu (hesitation).
Ada beberapa alasan mengapa orang senyap:
-          Karena dia telah terlanjur mulai dengan ujarannya, tetapi dia belum siap untuk seluruh kalimatnya. Karena itu dia senyap untuk mencari kata-kata untuk melanjutkan ujarannya.
-          Karena ia lupa kata-kata yang dia perlukan.
-          Karena ia sangat berhati-hati dalam memilih kata karena memperhatikan dampak pada pendengarnya.
Senyapan ini sendiri terbagi dua, yaitu
-          Senyapan diam dimana pembicara berhenti sejenak dan diam ketika dia mengingat atau mencari kata yang tepat, kemudian melanjutkannya setelah menemukan kata yang tepat.
-          Senyapan yang diisi dengan bunyi-bunyi tertentu seperti eh, uh yang digunakan hanya sekedar merupakan pengisi
Sebagai contoh dalam bahasa indonesia dapat kita jumpai pada penyiar tlevisi yang membuat kekeliruan dan memperbaikinya dengan memakai frasa maaf, atau maksud kami.
b.      Letak Senyapan
Para ahli belum ada kesepakatan yang pasti dimana tempat persisnya letak senyapan, namun ada yang berpendapat :
-          Senyapan terdapat pada terutama sesudah kata pertama dalam suatu klausa atau kalimat (Boomer 1965:148-158)
-          Senyapan terdapat sebelum bentuk leksikal yang penting (Goldman-Eisler 1964)
Namun demikian ada beberapa tempat-tempat yang para ahli sependapat (Clark & Clark 1977:267).
1)      Jeda grammatikal, adalah tempat senyap untuk merencanakan kerangka konstituen pertama dari kalimat yang akan diujarkan. Senyapan seperti ini cenderung lama dan sering.
2)      Pada batas antara satu konstituen dengan konstituen yang lain, disinilah orang merencakan konstituen apa yang cocok. Misalnya verb phrase, adverbial phrase, apa yang cocok yang akan digunakan selanjutnya
3)      Sebelum kata utama dalam konstituen. Pada bahasa seperti bahasa inggris, frasa nomina yang dimulai dengan kata the dapat memunculkan senyapan kaerna pembicara bisa saja sudah terlanjur mengeluarkan kata itu tetapi dia kemudian harus mencari nomina atau  kata lain yang cocok.

c.       Kekeliruan
Kekeliruan ada dua yaitu kilir lidah dan afasia
1)      Kilir lidah
Adalah suatu fenomena dimana si pembicara mengalami kilir lidah sehingga apa yang dia katakan berbeda dengan apa yang dia maksud. Kilir lidah dapat dibagi menjadi
a)      Kilir lidah disebabkan seleksi yang keliru
-          Seleksi semantik yang keliru
-          Malapropisme
-          Campuran kata (blends)
b)      Kekeliruan asembling

Kekeliruan seleksi
·         Kekeliruan pada seleksi semantik
Kekeliruan pada seleksi semantik umumnya berwujud kata yang utuh dan berasal dari medan semantik yang sama
Contohnya: “Kamu nanti beli kol, maksud saya, sawi, ya”
Medan semantik kol dan sawi adalah sama yaitu kelompok sayuran.
·         Kilir lidah malaproprisme
Yaitu kekeliruan yang disebabkan karena ingin kelihatan berkelas tinggi dengan memakai kata-kata yang muluk, tetapi kata-kata tersebut bukan lah kata yang benar. Contohnya : sebuah bengkel menuliskan di papan namanya  “Tempat Repavarasi Sepeda” mungkin dnegan pengertian huruf V pada kata revarasi adalah lebih keren dari pada huruf p. demikian pula seorang pelawak yang menyebutkan kata antisisapi padahal yang dimaksudnya antisipasi karena untuk di anggap lebih intelek.
·         Campuran kata.
Muncul bila orang tergesa-gesa sehingga dia mengambil satu atau sebagian suku dari kata pertama dan satu atau sebagian suku lagi dari kata kedua, kemudian digabungkan menjadi satu kata. Seperti :
Not in the sleast (dari slightest dan least)
Please Expland  (dari explain dan expand)
Dalam bahasa inggris kekeliruan ini sering dimanfaatkan untuk menciptakan kata yang lebih pendek seperti kata brunch dari kata breakfast dan lunch, motel dari kata motor dan hotel.
Kekeliruan Asembling
·         Transposisi
Yaitu memindahkan kata atau bunyi dari satu posisi ke posisi yang lain. Contohnya :
I need a gas of tank àseharusnya I need a tank of gas
·         Kekliruan antisipasi
Pembicara megantisipasi akan  munculnya suatu bunyi, lalu bunyi itu digunakan sebagai ganti dari bunyi yang seharusnya. Contoh :
“Bake my bike”
Kata bake seharunya adalah take namun karena si pembicara mengantisipasi akan adanya kata huruf b pada bike, maka kata take berubah menjadi kata bake. Dalam bahasa indonesia contohnya adalah
Seruling bambu à seluling bambu
Bisa saja       à sisa saja
·         Kekeliruan perseverasi
Disebut juga repitisi yaitu kebalikan dari antisipasi. Kalau pada antisipasi kekeliruan terjadi di muka, pada perseverasi kekeliruan terjadi di belakang. Contoh :
Pulled a tantrum à pulled a pantrum
Bunyi /p/ pada kata pulled terbawa ke belakang sehingga yang harusnya tantrum menjadi pantrum.

2)      Afasia
Afasia adalah penyakit wicara dimana orang tidak dapat berbicara dengan baik karena adanya penyakit pada otaknya. Penyakit ini umumnya karena stroke yaitu sebagian otaknya kekurangan oksigen sehingga bagian tadi menjadi cacat. Afasia sangat berhubungan dengan erat dengan otak dan perlu ulasan yang lebih rinci, sehingga kami tidak akan membahasnya di makalah ini.

d.      Unit – unit pada kilir lidah
1)      Keleliruan pada fitur distingtif
Contohnya :
Clear blue sky à glear plue sky
Clear ke glear merupakan penggantian fitur distingtif (-vois) dengan (+vois). Pada kasus blue menjadi plue adalah sebaliknya dari (+vois) dengan (-vois)
2)      Kekeliruan segmen fonetik
Yaitu kekeliruan dimana dua fonem tertukar tempat. Contohnya
With this ring I thee wed à with this wing I thee red
Left hemisphere à helf lemisphere
Kekeliruan fonetik merupakan kekeliruan yang paling umum yaitu mencapai 60 – 90% (Meyer 2000:52)

3)      Kekeliruan sukukata
Dalam hal ini yang selalu tertukar adalah konsonan pertama dari suatu suku dengan konsonan pertama dari suku lain. Contoh :
a-ni-mal                               à a-mi-nal
dalam bahasa indonesia
ke-la-pa                               à ke-pa-la
se-mi-nar                            à se-ni-mar

4)      Kekeliruan kata
Kekeliruan dengan tertukarnya tempat kata. Contoh :
Tank of gas                         à gas of tank

B.      Lupa-Lupa Ingat dan Latah
Dalam bahasa inggris disebut tip of tongue. Sekitar 75% dari orang yang lupa-lupa ingat menerkanya tidak terlalu keliru (Nickel dan Howard 2000; 125).
Suatu penelitian yang meneliti kata sextant, ada yang menjawab dengan kata secant, sextet, dan sexton.
Dari penelitian disimpulkan adanya pola-pola tertentu dalam menerka kata yang akan di ingat:
a.       Jumlah suku kata selalu benar
b.      Bunyi awal kata itu juga benar
c.       Hasil akhir kekeliruan itu mirip dengan kata yang sebenarnya.

Latah adalah suatu tindak kebahasaan dimana seseorang, sewaktu terkejut atau dikejutkan mengeluarkan kata-kata secara spontan dan tidak sadar dengan apa yang dikatakannya. Latah mempunyai ciri-ciri berikut :
a.       Konon latah hanya terdapat di Asia Tenggara
b.      Pelakunya lebih banyak terdapat pada wanita
c.       Kata-kata yang diucapkan umumnya berkaitan dengan seks atau alat kelamin pria atau wanita.
d.      Kalau kejutannya berupa kata, maka si latah juga bisa hanya mengulang kata itu saja.

Seberapa jauh kebenaran ciri-ciri di atas belum rasanya belum pernah diteliti.

C.      Proses Pengujaran
Proses pengujaran dapat diamat dengan model WEAVER ++







 

Katakanlah ada seorang Belanda yg melihat rokok dan mau mengatakan kata untuk benda itu. Akses leksikal akan mulai dari pembentukan konsep untuk benda ini yang disimbulkan dengan CIGAR(X) sampai ke wujud fonetiknya. Berikut adalah langkah-langkahnya:
a.       Peretrif lema (lemma retreiver) menerima konsep CIGAR (X) dan sekaligus memunculkan pula kategori sintaktik “nomina”, gender tak-netral, dan bentuk tunggal.
b.      Kemudian “berkas” itu dikirm ke word form encoding. Pada tahap morphological encoding, apa-apa yang berhubungan dengan morfologi, seperti bentuk tunggal dan kategori gendernya, diproses sehingga muncullah morfem
c.       Pada tahap phonologicla encoding, morfem ini diwujudkan bunyi-bunyinya, suku katanya bagaimana, dan tekanan katanya bagaimana.
d.      Hasil dari phonological encoding ini dikirim ke bagian phonetic encoding untuk diproses fitur-fitur fonetiknya.
e.      Akhirnya dikirim ke tahap terakhir, yakni program artikulasinya.

D.      Artikulasi kalimat
Setelah kata untuk calon kalimat itu selesai diproses dan akan diujarkan, maka bagian otak yang bertanggungjawab mengenai pengujaran, yakni daerah Broca, memerintakan Korteks motor untuk mulai bekerja. (Korteks motor adalah sebuah jalur di otak ynag mengendalikan lidah, rahang, gigi, pita suara dan mekanisme wicara lainnya). Agar iringan getar suara sebagai (+vois) atau (-vois) dengan segmen fonetiknya tepat, maka instruksi ke pita suara diberikan paling awal, sekitar 0,30 mili detik sebelum instruksi ke segmen bunyi itu dikeluarkan.
Seandainya kata yang akan di ucapkan adalah kata rokok maka korteks motor akan memberikan instruksi yang seolah-olah berbunyi:
a.       Pita suara, bersiap-siaplah untuk bergetar
b.      Lidah, tempelkan ujungmu pada daerah alveolar dan getarkan berkali-kali
c.       Pita suara, bersamaan dengan bergetarnya lidah itu, bergetarlah kamu
d.      Uvula, menempellah pada tenggorokan agar udara tidak keluar lewat hidung.
Dengan instruksi tersebut terbentuklah bunyi /r/. untuk bunyi /o/, prosesnya juga sama, hanya saja bunyi instruksi nya yang berbeda.
Dalam kenyataannya kualitas bunyi itu terpengaruh dengan bunyi dimuka atau dibelakangnya. Posisi lidah waktu mengucapkan o pada kata opor, akan berbeda dengan posisi lidah ketika mengatakan o pada kata rokok. Pada kata opor, posis lidah mulai dari titik nol, sedangkan pada kata rokok posisi lidah ada pada posisi r.
Kecepatan ujaran tentu saja mempengaruhi proses ini karena makin cepat seseorang berbicara, makin sedikitlah waktu yang dimilikinya untuk memperoses semua instruksi ini. Sebagai akibatnya, bunyi-bunyi itu makin tidak akurat, dan bahkan mungkin terjadi kekeliruan.

E.       Bagaimana kekeliruan terjadi
Fromkin (1973) menggambarkan dengan contoh sebagai berikut :

             Yang seharusnya                                                                     yang terjadi
a weekend for MANIACS                      à                           a maniac for WEEKENDS

kata yang dicetak dengan kapital mempunyai tekanan primer, sedangkan yang dicetak miring mempunyai tekanan sekunder.
Berikut adalah langkah-langkahnya
a.       Pembicara ingin membuat konstituen yang merujuk pada waktu (w-32)
b.      Kemudian membuat pola sintaktik
{artikel tdk definit + nom + [tek 2] + prep + nom + [jamak] + [tek 1]}
c.       Pembicara kemudian mengakses bentuk leksikal yaitu weekend,  dan maniac untuk dimasukkan ke dalam pola tersebut. Tetapi dia keliru memasukkan kata tersebut sesuai dengan pola yang dibuatnya. Yang seharunya di isi dengan weekend dimasukkan kata maniac. Sehingga terjadilah kilir lidah.
d.      Pembicara mewujudkan kata-kata dalam bentuk bunyi dengan afiks dan tekannya.
a +  maniac + for + WEEKEND + [z]
e.      Masing-masing kata dispesifikasikan sesuai dengan fitur distingtif masing-masing.

Proses kekeliruan ini mengikuti urutan tertentu. Langkah c misalnya mengikuti langkah b, buktinya ketika
maniac dan weekend tertukar, tekanannya tidak ikut, begitu juga (s) jamak juga tidak ikut, serta masing-masing kata sesuai dengan fitur distingtifnya masing-masing, seperti bunyi [z] pada kata weekends.

Dikutip dari buku Psikolinguistik



Home Schooling Advantages VS Disadvantages

0 komentar

Home Schooling is an option that is becoming more attractive to parents as time goes on. Schools have become increasingly unstable over the past couple of decades. Children roam the hallways unchecked, textbooks are outdated, violence is prevalent, children are bullied mercilessly, and the quality of education on the whole has greatly diminished.

What options do parents have to combat this downward spiral? Initially, private school was thought to be the answer. As enrollment in private schools soared many parents failed to see a difference between public and private schools. The problems were still the same.

The option of home schooling has been around for a long time; however, until recently it had not been so popular. The idea of home schooling seems like a cure-all to many parents due to the advantages this type of education provides over traditional schools. Children who are home schooled can avoid many of the problems schools have become known for. For one, the environment is less threatening. Children can learn without fearing other students, aggressive or nasty teachers, and be under the constant supervision of parents. In addition, home schooling allows parents to dictate the academic course of their children. Home schooling also allows students to proceed at their own speed. If a child is weak at multiplication and division, a parent can focus lessons on those skills in favor of another skill that the child might grasp rather easily.
Home schooling is also advantageous because it keeps children away from other students that may be corruptive forces. There are many students in school who do not value learning. This is not any fault of the schools; however, it is still a painful reality. These students can lead to the destruction of a stable learning environment. Home schooling keeps children focused on learning and not on avoiding social pressures.

It may sound like the perfect option, but there are many disadvantages of home schooling. First of all, home schooled children are usually less socialized. While schools can sometimes be the breeding ground for poor social behaviors, school is also a place where students learn to interact with others and build social skills. It seems a bit like a catch 22.

In addition, another drawback to home schooling could be implementation of an educational plan. Many parents are not qualified as teachers and may not understand what is necessary to ensure a child has access to the proper curriculum.

Finally, another disadvantage to home schooling is the necessity for parents to take full responsibility for their child's education. If you choose to home school your child there is no one for you to blame if your child does poorly. The responsibility falls completely on the parent.

There are many advantages and disadvantages to home schooling. Before you begin a home schooling plan make sure you have evaluated your ability to properly instruct your child and provide a quality learning experience. If you do not think you can handle it, you might as well send your child to school but become more involved with his or her education.