PRODUKSI KALIMAT

0 komentar



Ujaran diproses melalui 3 tahap, yaitu konseptualisasi, formulasi dan artikulasi (Meyer 2000: 49; Roelos 2000:71-73).
Studi tentang produksi kalimat tidak dapat dilakukan secara langsung. Kita tidak mungkin membedah tengkorak untuk mengetahui dimana dan bagaimana aliran elektrik pada neuron kita kita itu terjadi. Studi kalimat ini akan dilakukan dengan mengobservasi kalimat yang diujarkan, bagaimana kalimat itu diujarkan, dimana pembicara senyap, dimana dia ragu, dan mengapa dia senyap dan ragu, serta kesalahan-kesalahan apa yang dibuat oleh pembicara tersebut.
A.      Senyapan dan kilir lidah
1.       Senyapan
a.       Macam senyapan
Pada umumnya orang senyap sebentar, entah bernafas entah untuk keperluan lain. Pada waktu bicara, senyap untuk mengambil nafas sebenarnya tidak banyak hanya sekitar 5 %. Senyapan yang lebih umum adalah senyapan karena ragu-ragu (hesitation).
Ada beberapa alasan mengapa orang senyap:
-          Karena dia telah terlanjur mulai dengan ujarannya, tetapi dia belum siap untuk seluruh kalimatnya. Karena itu dia senyap untuk mencari kata-kata untuk melanjutkan ujarannya.
-          Karena ia lupa kata-kata yang dia perlukan.
-          Karena ia sangat berhati-hati dalam memilih kata karena memperhatikan dampak pada pendengarnya.
Senyapan ini sendiri terbagi dua, yaitu
-          Senyapan diam dimana pembicara berhenti sejenak dan diam ketika dia mengingat atau mencari kata yang tepat, kemudian melanjutkannya setelah menemukan kata yang tepat.
-          Senyapan yang diisi dengan bunyi-bunyi tertentu seperti eh, uh yang digunakan hanya sekedar merupakan pengisi
Sebagai contoh dalam bahasa indonesia dapat kita jumpai pada penyiar tlevisi yang membuat kekeliruan dan memperbaikinya dengan memakai frasa maaf, atau maksud kami.
b.      Letak Senyapan
Para ahli belum ada kesepakatan yang pasti dimana tempat persisnya letak senyapan, namun ada yang berpendapat :
-          Senyapan terdapat pada terutama sesudah kata pertama dalam suatu klausa atau kalimat (Boomer 1965:148-158)
-          Senyapan terdapat sebelum bentuk leksikal yang penting (Goldman-Eisler 1964)
Namun demikian ada beberapa tempat-tempat yang para ahli sependapat (Clark & Clark 1977:267).
1)      Jeda grammatikal, adalah tempat senyap untuk merencanakan kerangka konstituen pertama dari kalimat yang akan diujarkan. Senyapan seperti ini cenderung lama dan sering.
2)      Pada batas antara satu konstituen dengan konstituen yang lain, disinilah orang merencakan konstituen apa yang cocok. Misalnya verb phrase, adverbial phrase, apa yang cocok yang akan digunakan selanjutnya
3)      Sebelum kata utama dalam konstituen. Pada bahasa seperti bahasa inggris, frasa nomina yang dimulai dengan kata the dapat memunculkan senyapan kaerna pembicara bisa saja sudah terlanjur mengeluarkan kata itu tetapi dia kemudian harus mencari nomina atau  kata lain yang cocok.

c.       Kekeliruan
Kekeliruan ada dua yaitu kilir lidah dan afasia
1)      Kilir lidah
Adalah suatu fenomena dimana si pembicara mengalami kilir lidah sehingga apa yang dia katakan berbeda dengan apa yang dia maksud. Kilir lidah dapat dibagi menjadi
a)      Kilir lidah disebabkan seleksi yang keliru
-          Seleksi semantik yang keliru
-          Malapropisme
-          Campuran kata (blends)
b)      Kekeliruan asembling

Kekeliruan seleksi
·         Kekeliruan pada seleksi semantik
Kekeliruan pada seleksi semantik umumnya berwujud kata yang utuh dan berasal dari medan semantik yang sama
Contohnya: “Kamu nanti beli kol, maksud saya, sawi, ya”
Medan semantik kol dan sawi adalah sama yaitu kelompok sayuran.
·         Kilir lidah malaproprisme
Yaitu kekeliruan yang disebabkan karena ingin kelihatan berkelas tinggi dengan memakai kata-kata yang muluk, tetapi kata-kata tersebut bukan lah kata yang benar. Contohnya : sebuah bengkel menuliskan di papan namanya  “Tempat Repavarasi Sepeda” mungkin dnegan pengertian huruf V pada kata revarasi adalah lebih keren dari pada huruf p. demikian pula seorang pelawak yang menyebutkan kata antisisapi padahal yang dimaksudnya antisipasi karena untuk di anggap lebih intelek.
·         Campuran kata.
Muncul bila orang tergesa-gesa sehingga dia mengambil satu atau sebagian suku dari kata pertama dan satu atau sebagian suku lagi dari kata kedua, kemudian digabungkan menjadi satu kata. Seperti :
Not in the sleast (dari slightest dan least)
Please Expland  (dari explain dan expand)
Dalam bahasa inggris kekeliruan ini sering dimanfaatkan untuk menciptakan kata yang lebih pendek seperti kata brunch dari kata breakfast dan lunch, motel dari kata motor dan hotel.
Kekeliruan Asembling
·         Transposisi
Yaitu memindahkan kata atau bunyi dari satu posisi ke posisi yang lain. Contohnya :
I need a gas of tank àseharusnya I need a tank of gas
·         Kekliruan antisipasi
Pembicara megantisipasi akan  munculnya suatu bunyi, lalu bunyi itu digunakan sebagai ganti dari bunyi yang seharusnya. Contoh :
“Bake my bike”
Kata bake seharunya adalah take namun karena si pembicara mengantisipasi akan adanya kata huruf b pada bike, maka kata take berubah menjadi kata bake. Dalam bahasa indonesia contohnya adalah
Seruling bambu à seluling bambu
Bisa saja       à sisa saja
·         Kekeliruan perseverasi
Disebut juga repitisi yaitu kebalikan dari antisipasi. Kalau pada antisipasi kekeliruan terjadi di muka, pada perseverasi kekeliruan terjadi di belakang. Contoh :
Pulled a tantrum à pulled a pantrum
Bunyi /p/ pada kata pulled terbawa ke belakang sehingga yang harusnya tantrum menjadi pantrum.

2)      Afasia
Afasia adalah penyakit wicara dimana orang tidak dapat berbicara dengan baik karena adanya penyakit pada otaknya. Penyakit ini umumnya karena stroke yaitu sebagian otaknya kekurangan oksigen sehingga bagian tadi menjadi cacat. Afasia sangat berhubungan dengan erat dengan otak dan perlu ulasan yang lebih rinci, sehingga kami tidak akan membahasnya di makalah ini.

d.      Unit – unit pada kilir lidah
1)      Keleliruan pada fitur distingtif
Contohnya :
Clear blue sky à glear plue sky
Clear ke glear merupakan penggantian fitur distingtif (-vois) dengan (+vois). Pada kasus blue menjadi plue adalah sebaliknya dari (+vois) dengan (-vois)
2)      Kekeliruan segmen fonetik
Yaitu kekeliruan dimana dua fonem tertukar tempat. Contohnya
With this ring I thee wed à with this wing I thee red
Left hemisphere à helf lemisphere
Kekeliruan fonetik merupakan kekeliruan yang paling umum yaitu mencapai 60 – 90% (Meyer 2000:52)

3)      Kekeliruan sukukata
Dalam hal ini yang selalu tertukar adalah konsonan pertama dari suatu suku dengan konsonan pertama dari suku lain. Contoh :
a-ni-mal                               à a-mi-nal
dalam bahasa indonesia
ke-la-pa                               à ke-pa-la
se-mi-nar                            à se-ni-mar

4)      Kekeliruan kata
Kekeliruan dengan tertukarnya tempat kata. Contoh :
Tank of gas                         à gas of tank

B.      Lupa-Lupa Ingat dan Latah
Dalam bahasa inggris disebut tip of tongue. Sekitar 75% dari orang yang lupa-lupa ingat menerkanya tidak terlalu keliru (Nickel dan Howard 2000; 125).
Suatu penelitian yang meneliti kata sextant, ada yang menjawab dengan kata secant, sextet, dan sexton.
Dari penelitian disimpulkan adanya pola-pola tertentu dalam menerka kata yang akan di ingat:
a.       Jumlah suku kata selalu benar
b.      Bunyi awal kata itu juga benar
c.       Hasil akhir kekeliruan itu mirip dengan kata yang sebenarnya.

Latah adalah suatu tindak kebahasaan dimana seseorang, sewaktu terkejut atau dikejutkan mengeluarkan kata-kata secara spontan dan tidak sadar dengan apa yang dikatakannya. Latah mempunyai ciri-ciri berikut :
a.       Konon latah hanya terdapat di Asia Tenggara
b.      Pelakunya lebih banyak terdapat pada wanita
c.       Kata-kata yang diucapkan umumnya berkaitan dengan seks atau alat kelamin pria atau wanita.
d.      Kalau kejutannya berupa kata, maka si latah juga bisa hanya mengulang kata itu saja.

Seberapa jauh kebenaran ciri-ciri di atas belum rasanya belum pernah diteliti.

C.      Proses Pengujaran
Proses pengujaran dapat diamat dengan model WEAVER ++







 

Katakanlah ada seorang Belanda yg melihat rokok dan mau mengatakan kata untuk benda itu. Akses leksikal akan mulai dari pembentukan konsep untuk benda ini yang disimbulkan dengan CIGAR(X) sampai ke wujud fonetiknya. Berikut adalah langkah-langkahnya:
a.       Peretrif lema (lemma retreiver) menerima konsep CIGAR (X) dan sekaligus memunculkan pula kategori sintaktik “nomina”, gender tak-netral, dan bentuk tunggal.
b.      Kemudian “berkas” itu dikirm ke word form encoding. Pada tahap morphological encoding, apa-apa yang berhubungan dengan morfologi, seperti bentuk tunggal dan kategori gendernya, diproses sehingga muncullah morfem
c.       Pada tahap phonologicla encoding, morfem ini diwujudkan bunyi-bunyinya, suku katanya bagaimana, dan tekanan katanya bagaimana.
d.      Hasil dari phonological encoding ini dikirim ke bagian phonetic encoding untuk diproses fitur-fitur fonetiknya.
e.      Akhirnya dikirim ke tahap terakhir, yakni program artikulasinya.

D.      Artikulasi kalimat
Setelah kata untuk calon kalimat itu selesai diproses dan akan diujarkan, maka bagian otak yang bertanggungjawab mengenai pengujaran, yakni daerah Broca, memerintakan Korteks motor untuk mulai bekerja. (Korteks motor adalah sebuah jalur di otak ynag mengendalikan lidah, rahang, gigi, pita suara dan mekanisme wicara lainnya). Agar iringan getar suara sebagai (+vois) atau (-vois) dengan segmen fonetiknya tepat, maka instruksi ke pita suara diberikan paling awal, sekitar 0,30 mili detik sebelum instruksi ke segmen bunyi itu dikeluarkan.
Seandainya kata yang akan di ucapkan adalah kata rokok maka korteks motor akan memberikan instruksi yang seolah-olah berbunyi:
a.       Pita suara, bersiap-siaplah untuk bergetar
b.      Lidah, tempelkan ujungmu pada daerah alveolar dan getarkan berkali-kali
c.       Pita suara, bersamaan dengan bergetarnya lidah itu, bergetarlah kamu
d.      Uvula, menempellah pada tenggorokan agar udara tidak keluar lewat hidung.
Dengan instruksi tersebut terbentuklah bunyi /r/. untuk bunyi /o/, prosesnya juga sama, hanya saja bunyi instruksi nya yang berbeda.
Dalam kenyataannya kualitas bunyi itu terpengaruh dengan bunyi dimuka atau dibelakangnya. Posisi lidah waktu mengucapkan o pada kata opor, akan berbeda dengan posisi lidah ketika mengatakan o pada kata rokok. Pada kata opor, posis lidah mulai dari titik nol, sedangkan pada kata rokok posisi lidah ada pada posisi r.
Kecepatan ujaran tentu saja mempengaruhi proses ini karena makin cepat seseorang berbicara, makin sedikitlah waktu yang dimilikinya untuk memperoses semua instruksi ini. Sebagai akibatnya, bunyi-bunyi itu makin tidak akurat, dan bahkan mungkin terjadi kekeliruan.

E.       Bagaimana kekeliruan terjadi
Fromkin (1973) menggambarkan dengan contoh sebagai berikut :

             Yang seharusnya                                                                     yang terjadi
a weekend for MANIACS                      à                           a maniac for WEEKENDS

kata yang dicetak dengan kapital mempunyai tekanan primer, sedangkan yang dicetak miring mempunyai tekanan sekunder.
Berikut adalah langkah-langkahnya
a.       Pembicara ingin membuat konstituen yang merujuk pada waktu (w-32)
b.      Kemudian membuat pola sintaktik
{artikel tdk definit + nom + [tek 2] + prep + nom + [jamak] + [tek 1]}
c.       Pembicara kemudian mengakses bentuk leksikal yaitu weekend,  dan maniac untuk dimasukkan ke dalam pola tersebut. Tetapi dia keliru memasukkan kata tersebut sesuai dengan pola yang dibuatnya. Yang seharunya di isi dengan weekend dimasukkan kata maniac. Sehingga terjadilah kilir lidah.
d.      Pembicara mewujudkan kata-kata dalam bentuk bunyi dengan afiks dan tekannya.
a +  maniac + for + WEEKEND + [z]
e.      Masing-masing kata dispesifikasikan sesuai dengan fitur distingtif masing-masing.

Proses kekeliruan ini mengikuti urutan tertentu. Langkah c misalnya mengikuti langkah b, buktinya ketika
maniac dan weekend tertukar, tekanannya tidak ikut, begitu juga (s) jamak juga tidak ikut, serta masing-masing kata sesuai dengan fitur distingtifnya masing-masing, seperti bunyi [z] pada kata weekends.

Dikutip dari buku Psikolinguistik



komentar (0)

Poskan Komentar